Menulis Buku Hasil Kontes Ngeblog [H 20]

5 Sep 2013

396352d02c0a2176b264e7277ae37fc1_menulis

Sesungguhnya para peserta kontes #30HariNonstopNgeblog sudah bisa menjadi penulis buku begitu kontes ini selesai. Hasil mengikuti kontes ini adalah 30 naskah tulisan dengan asumsi para blogger menulis setiap hari selama 30 hari kontes (17 Agustus-15 September). Dengan naskah sebanyak itu, maka blogger tinggal memilah dan memilih naskah mana yang layak diterbitkan menjadi buku.

Pemilahan dan pemilihan naskah untuk bahan utama buku berdasarkan pada topik buku yang sedang dan akan laku di pasaran. Misalnya, buku yang sedang dan akan laris di pasaran adalah yang bertopik teknologi budidaya ikan lele, francise makanan, cerita pendek, novel, perawatan kesehatan di rumah, perilaku di media sosial, pendidikan guru, hobi, pemilu, biografi tokoh, dan sederet lainnya.

Naskah hasil kontes disesuaikan dengan topik yang laku di pasaran tersebut. Untuk mengetahui topik apa saja yang sedang “in” blogger perlu survey ke toko buku, googling di internet, menengok beberapa koran online, atau bertanya langsung kepada penerbit. Namun keputusan akhir mengenai topik adalah pertimbangan dari si penulis buku sendiri.

Tentu saja masih ada beberapa pertimbangan sebelum mencetak naskah menjadi buku. Pertama, setelah naskah dipilih untuk dijadikan bahan utama buku selanjutnya diedit lagi, ditambahi isinya, dihaluskan bahasanya. Naskah hasil kontes itu adalah naskah yang masih terlalu singkat dan dibuat terburu-buru karena mengikuti persyaratan kontes yang mewajibkan kepada peserta untuk membuat satu artikel setiap hari.

Cara menyempurnakan naskah menjadi buku adalah dengan membuat outline atau kerangka isi buku. Mungkin dapat dibuat dengan membagi buku dengan tiga bagian.

Bagian pertama berisi alasan-alasan, latar belakang, landasan-landasan tentang topik buku. Bagian kedua berisi tentang kondisi kekinian, peristiwa yang sedang berlangsung, tokoh-tokoh yang terlibat dengan karakternya, kejadian-kejadian yang menarik, hubungan-hubungan antara satu peristiwa dan peristiwa lain. Bagian ketiga berisi tentang akibat-akibat, dampak, konsekuensi, implikasi, atau langkah-langkah yang perlu diambil.

Untuk mempertajam langkah ini, calon penulis buku dapat langsung membuat daftar isi. Dengan daftar isi itulah calon penulis mencari bahan-bahan tambahan. Daftar isi merupakan outline buku yang sudah dibuat lebih urut dan lengkap atau rinci.

Penyempurnaan isi buku dapat dilakukan dengan mencari buku-buku penunjang yang dapat diperoleh di perpustakaan pribadi atau perpustakaan umum. Yang paling mudah adalah mencarinya di internet. Jika blogger memahami bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya maka hal itu sangat membantu untuk mendapatkan buku rujukan yang akan memperkaya buku yang akan diterbitkannya.

Setelah naskah diedit dan ditambahi isinya selesai dilakukan, perlu dibaca lagi untuk melihat apakah ada lagi yang perlu diperbaiki, ditambahkan, atau dikurangi. Kemudian langkah selanjutnya meminta teman atau kolega untuk membaca naskah buku tersebut agar mendapatkan masukan.

Langkah yang tak kalah penting dalam penerbitan sebuah buku adalah pembuatan judul. Judul buku memiliki karakteristik yang berbeda dengan judul artikel yang di tulis sebagai posting. Namun blogger dapat juga menggunakan judul posting sebagai judul buku yang akan diterbitkannya.

Pada prinsipnya judul buku harus singkat (karena ukurannya kecil), padat (mewakili keseluruhan isi buku), dan eye catching (agar menarik perhatian). Judul yang singkat dan padat tergantung pada jenis buku, apakah buku itu fiksi (cerita, puisi, novel, biografi) atau nonfiksi (ilmu pengetahuan).

Judul dapat terdiri dari dua bagian, judul utama dan anak judul. Untuk buku fiksi judul utama yang standar tidak melebihi 7 kata, misalnya “Antologi Puisi Hujan,” atau “Gara-Gara Ngeblog Aku Jadi Jutawan.” Bisa juga, “Ilmu Ikhlas yang Dahsyat” atau “90% Pejabat Punya Dukun Pribadi” (ha ha ha).

Blogger boleh juga menambahkan judul utama dengan anak judul. Judul ini dapat ditulis setelah tanda titik dua atau ditaruh di bawah judul utama. Fungsinya adalah untuk mempertajam dan memperjelas judul utama.

Untuk buku nonfiksi dibuat berdasarkan materi keilmuan yang ditulis. Misalnya, Aspek Sosiologis Pemilu Kepala Daerah, Efektivitas Mesin Politik Partai, Akuntabilitas Pejabat Publik, Karakteristik Mamalia Laut, Teori Psikologi Kontemporer, Model-Model Pembelajaran Konstruktivistik, dan sebagainya.

Buku yang laris dapat ditentukan oleh judulnya yang eye catching. Pemilihan kata yang menimbulkan rasa penasaran, dicetak dengan font yang mudah dibaca namun indah, warnanya bagus, bisa juga bersifat bombastis adalah ciri-ciri judul yang eye catching.

Dengan judul yang bersifat provokatif seperti itu, sebuah buku memiliki salah satu keunggulan untuk dijual di toko buku. Di toko buku berjejer buku-buku yang berjumlah ribuan, penulis buku harus mampu membuat judul bukunya sedemikian rupa agar terlihat mencolok di deretan buku tersebut. Pembeli buku yang tadinya tidak berniat membeli buku dengan topik tertentu dapat berubah pikiran untuk akhirnya membeli buku yang judulnya provokatif itu.

Baiklah, setelah semua pertimbangan untuk menerbitkan naskah hasil kontes ngeblog sudah dilalui, satu langkah lagi perlu dilakukan, yaitu: menawarkan kepada penerbit. Penerbit nanti akan mengkaji kelayakan buku itu untuk diterbitkan. Keputusan penerbit akan ada 3: menerima langsung untuk diterbitkan, menerima dengan direvisi terlebih dulu, dan menolak. Apa pun keputusan penerbit penulis buku tidak boleh patah semangat. Terutama ketika buku yang ditawarkan itu ditolak. Mengapa? Karena hampir semua penulis buku ternama sekali pun, bukunya ditolak oleh penerbit saat mereka menawarkan bukunya yang pertama kali untuk diterbitkan.*** [Kangmas Hejis]


TAGS cara mengarang buku menerbitkan blogger


-

Author

Follow Me